<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Foto Fotografi Tips Foto Kursus Foto Konsultan Komunikasi Marketing Website SEO Desain Grafis Murah Jakarta &#187; Studio Fotografi</title>
	<atom:link href="http://studiofotografi.com/category/fotografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiofotografi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Oct 2011 04:30:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Teknik Foto Potret</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/01/teknik-foto-potret/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/01/teknik-foto-potret/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 08:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknis Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Potret atau Fotografi Potret merupakan seni fotografi yang menarik. Karena pada fotografi potret akan menampilkan obyek manusia, baik secara individual maupun kelompok, yang menonjolkan unsur kepribadian obyek foto tersebut. Yang termasuk foto potret adalah foto orang yang dicintai, foto teman-teman maupun anggota keluarga. Sebuah foto potret akan menampilkan orang dalam bentuk seluruh badan, atau separuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong> </strong>Potret </strong>atau<strong> </strong> <strong>Fotografi Potret</strong> merupakan seni fotografi yang menarik. Karena pada fotografi potret akan menampilkan obyek manusia, baik secara individual maupun kelompok, yang menonjolkan unsur kepribadian obyek foto tersebut. Yang termasuk foto potret adalah foto orang yang dicintai, foto teman-teman maupun anggota keluarga. Sebuah foto potret akan menampilkan orang dalam bentuk seluruh badan, atau separuh badan (pinggang ke kepala), atau <em>close up</em> yaitu wajah dan bahu saja atau bahkan kepala saja.</p>
<p>Untuk membuat foto berupa potret membutuhkan perencanaan yang baik. Kualitas foto bukan sekadar hasil jepretan kamera saja, namun dapat menampilkan makna dari kepribadian dan ekspresi orang yang ada dalam foto tersebut. Yang perlu diperhatikan tidak hanya subyek foto tersebut, namun juga pencahayaan, latar belakang, set, lokasi, pose, ekspresi muka dan warna. Meski mungkin Anda tidak mampu mengambil foto potret seindah fotografer profesional, namun dengan mempelajari beberapa teknik dasarnya, Anda bisa membuat foto potret sendiri.</p>
<p>Berikut ini beberapa tips dan saran untuk membuat foto potret yang baik.<span id="more-68"></span></p>
<div>
<ul>
<li>
<h2>Bagaimana cara membuat seseorang tersenyum di depan kamera?</h2>
<p>Pastikan subyek yang Anda foto dalam kondisi atau <em>mood</em> yang baik untuk difoto. Misalnya Anda ingin membuat foto seorang anak kecil, maka pastikan bahwa ia tidak dalam kondisi lelah atau lapar. Juga pastikan subyek yang Anda foto tidak dalam kondisi lelah karena dapat membuat wajah dan matanya menjadi lebih tegang. Anda dapat memberikan sedikit waktu untuk beristirahat atau menikmati makanan ringan sebelum sesi pemotretan dimulai. Dengan memberi waktu jedah istirahat sambil menikmati cemilan, Anda akan membangun interaksi yang baik dengan subyek foto Anda. Bersikap ramah dan berbicaralah dengannya yang akan membantunya lebih rileks.</p>
<p>Namun jangan membuat situasi menjadi lucu hingga subyek tersebut tertawa terbahak-bahak. Karena hal ini dapat membuat matanya menjadi juling dan membuat aliran darah di wajah lebih banyak. Cobalah mengambil gambar dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Semakin banyak foto yang Anda buat, semakin banyak kesempatan memperoleh foto terbaik yang menampilkan karakter orang tersebut.</li>
<li>
<h2>Bagaimana penanganan orang yang menggunakan kacamata?</h2>
<p>Kacamata dapat menimbulkan pantulan cahaya dan membuat silau. Karena itu Anda dapat melihatnya dari <em>viewfinder</em> atau layar LCD kamera Anda, apakah ada pantulan cahaya yang mengganggu. Jika ternyata ada pantulan cahaya di kacamata subyek yang Anda foto, Anda dapat memintanya untuk menggerakkan kepalanya secara perlahan hingga pantulan cahaya tersebut hilang dari titik tengah matanya. Anda juga dapat memintanya sedikit menundukkan kepalanya, namun berhati-hatilah agar tidak terjadi lipatan pada dagunya jika terlalu menunduk.</li>
<li>
<h2>Bagaimana dengan pakaian dan penampilan?</h2>
<p>Jika Anda akan mengambil foto sekelompok orang, perhatikan juga warna pakaian. Gunakan warna yang enak dipandang. Atau Anda dapat juga meminta mereka menggunakan warna yang sama.</p>
<p>Jika Anda akan mengambil foto seseorang, warna pakaian juga perlu diperhatikan. Jika Anda ingin memfoto seseorang berbadan besar, maka sebaiknya ia menggunakan pakaian berwarna gelap. Sebaliknya jika subyek Anda berbadan kurus atau kecil, maka mintalah ia menggunakan pakaian berwarna terang.</p>
<p>Lalu pastikan pakaian tidak kusut saat difoto. Jika orang tersebut menggunakan dasi, perhatikan apakah dasinya sudah lurus dan rapi. Lalu pastikan rambutnya telah rapi. Mata Anda mungkin tidak mampu memperhatikan ada helai rambut yang keluar dan mengganggu, namun lensa kamera akan menangkapnya dengan jelas. Lalu jika Anda akan mengambil gambar seorang wanita, Anda dapat memperhatikan <em>make up</em> yang digunakan telah sesuai.</li>
<li>
<h2>Apa yang perlu diperhatikan saat foto <em>outdoor</em> atau di luar ruangan?</h2>
<p>Saat mengambil foto di luar ruangan, perhatikan situasi yang menjadi latar belakang foto tersebut. Pilihlah pohon, bunga, pagar kayu, atau tembok rumah sebagai latar belakang. Jangan mengambil foto dengan latar kegiatan yang sibuk seperti jalan raya, kabel listrik, atau daerah bisnis dan sibuk. Hal ini dapat mengurangi keindahan hasil foto Anda. Ingatlah subyek Anda dalam foto potret adalah orang yang akan Anda foto saja dan bukan latar belakangnya.</li>
<li>
<h2>Apa yang perlu diperhatikan saat foto <em>indoor</em> atau di dalam ruangan?</h2>
<p>Jika Anda mengambil foto di dalam ruangan, Anda bisa mempersilahkan subyek yang Anda foto untuk duduk di kursi atau sofa yang diletakkan di depan sebuah tembok berwarna cerah atau di dekat tanaman indoor</p>
<p>Anda juga dapat mengatur agar latar belakang foto tersebut menggambarkan pekerjaan dan kegiatan favorit dari subyek yang Anda foto. Misalnya Anda dapat meletakkan meja atau alat jahit sebagai latar belakang.</li>
<li>
<h2>Lensa apa yang cocok untuk foto potret?</h2>
<p>Anda dapat menggunakan lensa antara 105 sampai 150 mm untuk mengambil foto potret. Jika Anda tidak dapat mengganti atau mengatur lensa kamera Anda, misalnya kamera saku <em>(pocket camera)</em>, Anda dapat mengatur jarak antara Anda dan subyek yang difoto. Cobalah mendekati atau menjauh dari subyek hingga Anda mendapatkan posisi foto yang paling tepat.</li>
<li>
<h2>Bagaimana komposisi foto yang tepat?</h2>
<p>Anda dapat menyisakan sedikit jarak dari subyek yang Anda foto ke sisi foto tersebut. Jarak ini berguna jika Anda akan membuat bingkai untuk foto tersebut sehingga tidak akan memotong bagian tubuh subyek yang Anda foto.</p>
<p>Lalu posisikan wajah atau mata dari subyek foto Anda pada area kira-kira sepertiga bagian atas atau samping atau bawah foto Anda. Dalam ilmu fotografi, teknik ini dikenal dengan nama <strong><em>rule of thirds</em></strong>. Anda juga dapat menjadikan mata dari subyek foto di bagian tengah foto Anda.</li>
<li>
<h2>Bagaimana dengan posisi dan sikap dari subyek foto?</h2>
<p>Pastikan subyek yang Anda foto dalam posisi rileks, baik saat berdiri, duduk, atau berbaring. Jika wajahnya terlalu bulat, mintalah subyek foto Anda untuk sedikit memutar kepala atau badannya sehingga hanya sebagian dari wajahnya terkena pencahayaan. Hal ini akan membuat wajahnya lebih ramping.</p>
<p>Perhatikan posisi tubuh yang lain, seperti tangan dan kaki. Pastikan posisi tubuh dalam posisi alami atau natural. Cobalah agar subyek yang Anda foto memegang sesuatu atau melakukan pose yang alamiah. Jangan biarkan kedua tangan lurus ke bawah di samping tubuh. Hal ini sering dilakukan fotografer pemula namun akan membuat subyek terlihat kaku dalam foto.</li>
<li>
<h2>Bagaimana cara mengambil gambar subyek pasangan?</h2>
<p>Mintalah mereka untuk sedikit memiringkan kepala satu sama lain. Hal ini untuk menghindari kepala mereka sama tinggi. Cobalah menempatkan tinggi hidung salah satu orang pada ketinggian mata orang lainnya.</li>
<li>
<h2>Bagaimana dengan pencahayaan?</h2>
<p>Jika Anda mengambil foto di luar ruangan <em>(outdoor)</em>, saat terbaik adalah pada sore hari, karena udara lebih tenang dan warna cahaya terlihat lebih hangat. Hindari cahaya matahari terlalu terik sehingga membuat mata dari subyek foto Anda menjadi sipit karena terlalu silau.</p>
<p>Jika matahari terlalu terik, posisikan agar matahari menyinari dari belakang subyek foto Anda. Memang hal ini akan menyebabkan wajahnya menjadi gelap karena menjadi bayangan matahari yang menyinari dari belakang. Anda dapat menggunakan <em>flash</em> atau <em>blitz</em> atau lampu kilat untuk menerangi daerah yang menjadi bayangan matahari. Anda juga dapat menggunakan <em>reflector</em> atau yang paling mudah menggunakan <em>white board</em> untuk memantulkan cahaya matahari ke bagian yang menjadi bayangan matahari.</p>
<p>Jika mengambil gambar di dalam ruangan <em>(indoor)</em>, gunakan <em>blitz</em> untuk pencahayaan. Anda juga dapat mengambil gambar di dekat jendela yang memiliki pencahayaan lebih terang. Lakukan ini di daerah yang memiliki tembok berwarna putih atau terang, karena akan memantulkan cahaya dari <em>blitz</em> kamera Anda sehingga lebih memperkuat pencahayaan.</li>
</ul>
</div>
<p>Sekarang Anda sudah siap untuk mengambil foto sahabat, anggota keluarga atau pasangan Anda dengan hasil yang lebih baik bahkan bisa menyamai hasil dari fotografer profesional. <strong>Selamat memotret!</strong></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/01/teknik-foto-potret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fotografi Dasar 2</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:55:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknis Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[aperture]]></category>
		<category><![CDATA[bukaan rana]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[jendela cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan rana]]></category>
		<category><![CDATA[lensa]]></category>
		<category><![CDATA[Rana]]></category>
		<category><![CDATA[shutter speed]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[KECEPATAN RANA (SHUTTER-SPEED) Shutter adalah alat yang membatasi antara lensa dengan media film atau sensor. Alat ini akan membuka ketika tombol shutter ditekan dan menyebabkan media terekspos oleh cahaya. Posisinya digambarkan pada diagram berikut: Speed setting akan mengatur lamanya waktu terbukanya shutter. Shutter speed dinyatakan dengan angka 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KECEPATAN RANA (SHUTTER-SPEED) </strong></p>
<p>Shutter adalah alat yang membatasi antara lensa dengan media film atau sensor. Alat ini akan membuka ketika tombol shutter ditekan dan menyebabkan media terekspos oleh cahaya. Posisinya digambarkan pada diagram berikut:</p>
<p><a href="http://studiofotografi.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/dasar-foto-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-28" title="dasar foto 1" src="http://studiofotografi.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/dasar-foto-1-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a></p>
<p><em>Speed setting</em> akan mengatur <em>lamanya waktu </em>terbukanya shutter. Shutter speed dinyatakan dengan angka 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 3, 2, 1”, 2”, 4”. Angka-angka pada shutter speed setting merupakan penyebut dari waktu sensor terbuka. Misalnya, speed 250 berarti sensor terbuka 1/250 detik.<span id="more-23"></span></p>
<p>Waktu terbuka di atas 1 detik ditandai dengan tanda kutip ( “ ), misalnya 2” berarti sensor terbuka selama 2 detik. Waktu terbuka yang lebih panjang berarti bahwa sensor menerima cahaya yang lebih banyak. Beberapa kamera memiliki shutter speed tercepat hingga 1/8000 s dan speed lambat hingga 30 s. Kamera-kamera profesional mungkin memiliki kecepatan yang ditandai dengan huruf <strong>B</strong> (Bulb), yaitu setting yang akan terus membuka shutter selama tombol ditekan.</p>
<p>Setiap perubahan pada kecepatan maupun bukaan dikenal dengan istilah <strong><em>f-stop</em></strong><em>. </em>Perubahan dari 2000 ke 1000 atau dari 500 ke 250 disebut dengan <em>1 langkah f-stop</em>. Perhatikan bahwa pada setiap langkah, angkanya berubah menjadi ½ dari sebelumnya. Artinya, untuk setiap langkah perubahan, banyaknya cahaya yang sampai pada sensor akan berlipat 2.</p>
<p>Pada ilustrasi berikut, banyaknya cahaya yang sampai pada sensor adalah volume dari tabung cahaya. Panjang tabung menunjukkan lamanya pencahayaan, sedangkan diameter tabung menunjukkan lebar bukaan (aperture).</p>
<p>di pagi hari yang cerah, Anda dapat menggunakan shutter speed yang cepat, misalnya 1/250 s</p>
<p>Namun pada kondisi mendung dan intensitas cahaya berkurang, Anda harus memperlambat shutter speed agar waktu pencahayaan menjadi lebih panjang, misalnya menjadi 1/30 s</p>
<p>Pada kondisi tertentu, mungkin perlu digunakan shutter speed lebih cepat dikombinasikan dengan bukaan lebar</p>
<p>Atau justru sebaliknya, shutter speed lebih lambat dengan bukaan sempit</p>
<p>Intinya, perbedaan setting shutter speed akan menyebabkan perbedaan lamanya waktu pencahayaan. Pada bukaan aperture yang sama, banyaknya cahaya yang diterima sensor adalah sebanding dengan lama waktu pencahayaan.</p>
<p>Untuk lebih memahami tentang kecepatan, Anda dapat mencoba beberapa setting. Jika kamera Anda memiliki mode M, gunakan mode tersebut dengan nilai aperture tetap, misalnya f/5.6. Lalu lakukan pemotretan dengan beberapa shutter speed, misalnya 250, 125, 60. Amati perbedaan yang dihasilkan dari setiap setting.</p>
<p>Setelah itu, cobalah menggunakan speed lambat, misalnya 1”, 2” atau 4”, perhatikan perbedaan waktu antara saat Anda menekan tombol shutter dengan saat terdengarnya suara shutter tertutup.</p>
<p>Foto berikut dibuat dengan speed lambat:</p>
<p><strong>BUKAAN RANA (APERTURE WIDTH) </strong></p>
<p>Aperture akan mengatur <em>luas bukaan jendela</em> melalui lensa menuju sensor.  Aperture terdiri dari beberapa bilah penutup (<em>blade</em>) yang dapat bergerak sedemikian hingga membentuk lubang kecil di tengahnya. Pada era kamera analog, pengaturan aperture dilakukan melalui aperture ring pada lensa. Saat ini, baik speed maupun aperture dilakukan lewat kamera. Contoh bentuk aperture:</p>
<p>Aperture dinyatakan dengan angka-angka 22. 16, 11, 8, 5.6, 4, 2.8. Angka-angka pada aperrture setting merupakan penyebut dari diameter bukaan lensa. Misalnya f/4 berarti diameter bukaan 1/4 inch. Artinya, semakin kecil angka aperture, berarti diameter bukaan lensa menjadi lebih besar.</p>
<p>Lebar bukaan rana dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p>Atau dapat juga digambarkan seperti ini:</p>
<p>Perhatikan bahwa jendela cahaya pada lensa berbentuk seperti lingkaran. Cahaya yang masuk akan sebanding dengan luas bukaan aperture, atau kuadrat dari jari-jarinya (atau ¼ dari kuadrat diameternya). Oleh karena itu, untuk memperoleh cahaya 2 kali lebih banyak, diperlukan pertambahan diameter sebesar 1.4 (= akar 2) kali diameter sebelumnya. Jadi, sebagaimana pada shutter speed, setiap perubahan f-stop pada aperture berarti pertambahan cahaya 2 kali lipat.</p>
<p>bersambung &#8230;</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fotografi Dasar 1</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-1/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknis Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[dasar pemotretan]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[ISO]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini akan memberikan pengetahuan dasar mengenai pemotretan dan membantu Anda untuk memahami pengaturan shutter speed &#38; aperture dan pengaruhnya pada foto yang Anda dapatkan. Setelah membaca &#38; mempraktekkan latihan-latihan dalam biku ini buku ini, Anda akan mampu menghasilkan foto yang cerah, tajam, &#38; jernih pada berbagai kondisi. Yang Anda perlukan adalah: 1. Kamera dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini akan memberikan pengetahuan dasar mengenai pemotretan dan membantu Anda untuk memahami pengaturan shutter speed &amp; aperture dan pengaruhnya pada foto yang Anda dapatkan. Setelah membaca &amp; mempraktekkan latihan-latihan dalam biku ini buku ini, Anda akan mampu menghasilkan foto yang cerah, tajam, &amp; jernih pada berbagai kondisi. Yang Anda perlukan adalah:</p>
<p>1. Kamera dengan kemampuan Manual &amp; Priority Setting (P, A, S, M)</p>
<p>2. Buku petunjuk penggunaan kamera (<em>Manual/ Camera user’s Guide</em>)</p>
<p>3. Latihan &amp; kreativitas</p>
<p>Selamat berlatih &amp; semoga bermanfaat</p>
<p><strong>PRAKTEK </strong></p>
<p>Latihan-latihan yang termuat dalam tulisan ini bertujuan untuk memberikan Anda pemahaman tentang pengaruh perbedaan setting shutter speed &amp; aperture terhadap foto yang dihasilkan. Kamera digital memberikan keuntungan besar karena Anda dapat segera melihat hasilnya setelah pemotretan, jadi sebaiknya Anda melakukan semua latihan yang diperlukan. Jangan takut untuk mencoba berbagai setting, lakukan praktek sebanyak-banyaknya. Download foto yang Anda hasilkan, lalu copy &amp; paste ke halaman yang tersedia sebagai referensi untuk Anda sendiri.</p>
<p>Karena tulisan ini berfokus pada shutter speed dan aperture, ada baiknya Anda memastikan setting yang lain tidak berubah. Untuk mudahnya, kecuali dinyatakan lain, pastikan saja setting yang lain berada pada posisi berikut:</p>
<p>ISO setting 200</p>
<p>White balance Sunny/ Daylight</p>
<p>Focus mode Auto</p>
<p>Metering mode Centre weighted<span id="more-17"></span></p>
<p>Keuntungan dari kamera digital adalah bahwa gambar yang dihasilkan selalu memiliki <strong>data EXIF</strong> (EXposure InFormation). Data ini dapat Anda gunakan untuk belajar. Dalam data ini terkandung banyak informasi, termasuk data alat yang digunakan, mode pemotretan, metering, dsb. Yang penting untuk Anda ketahui dalam praktek ini adalah, bagaimana Anda dapat mereview gambar dalam kamera dan melihat data-data:</p>
<p>1. ISO</p>
<p>2. Shutter speed</p>
<p>3. Aperture</p>
<p><strong>INFORMASI DASAR </strong></p>
<p>Fotografi berasal dari kata <em>photos</em> (cahaya) dan <em>graphy</em> (gambar), jadi fotografi berarti menggambar dengan cahaya. Kunci untuk menghasilkan foto yang bagus adalah kemampuan untuk memahami &amp; memanfaatkan cahaya yang ada – atau dengan bantuan alat pencahayaan (<em>lighting</em>) – sehingga diperoleh foto yang cerah, tajam &amp; jernih.</p>
<p>Cerah (<em>contrast</em>) – jelas perbedaan antara warna-warna dan elemen-elemen dalam foto</p>
<p>Tajam (<em>sharp</em>) – fokus, garis-garis batas dan detil obyek terekam dengan baik</p>
<p>Jernih (<em>clear</em>) – tidak terganggu oleh noise atau artefak, baik akibat debu pada <em>harware </em>ataupun keterbatasan proses</p>
<p>Kamera digital memiliki 3 cara untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke sensor:</p>
<p>1. Kecepatan (<em>shutter speed</em>)</p>
<p>2. Bukaan lensa (<em>aperture</em>)</p>
<p>3. Kepekaan (ISO)</p>
<p>Sebuah foto yang bagus akan dihasilkan jika sensor memperoleh cukup cahaya untuk mereproduksi gambar. Kombinasi ISO, shutter speed &amp; aperture akan menentukan banyaknya cahaya yang sampai ke sensor. Artinya, ada berbagai kemungkinan untuk memperoleh cahaya yang mencukupi. Sebagai patokan dasar, berikut ini adalah setting shutter speed dan aperture yang digunakan untuk pemotretan di luar ruangan (ruang terbuka) pada tengah hari yang cerah</p>
<p><strong><em>ISO  200 </em></strong></p>
<p><strong><em>Speed  250 </em></strong>(lama bukaan 1/250 s)<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Aperture  f/16 </em></strong></p>
<p>Setting ini dikenal dengan istilah <strong>BDE</strong> = <em>Bright Daylight Exposure </em></p>
<p>Kombinasi lain yang mungkin digunakan untuk memperoleh cahaya yang sama pada sensor:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">ISO</td>
<td valign="top">100</td>
<td valign="top">100</td>
<td valign="top"><strong>200 </strong></td>
<td valign="top">200</td>
<td valign="top">400</td>
<td valign="top">800</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Speed</td>
<td valign="top">125</td>
<td valign="top">250</td>
<td valign="top"><strong>250 </strong></td>
<td valign="top">500</td>
<td valign="top">500</td>
<td valign="top">500</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Aperture</td>
<td valign="top">16</td>
<td valign="top">11</td>
<td valign="top"><strong>16 </strong></td>
<td valign="top">11</td>
<td valign="top">16</td>
<td valign="top">22</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Untuk kondisi pagi hari yang cerah, kombinasi berikut dapat digunakan:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">ISO</td>
<td valign="top">100</td>
<td valign="top">100</td>
<td valign="top"><strong>200 </strong></td>
<td valign="top">200</td>
<td valign="top">400</td>
<td valign="top">800</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Speed</td>
<td valign="top">125</td>
<td valign="top">250</td>
<td valign="top"><strong>250 </strong></td>
<td valign="top">125</td>
<td valign="top">250</td>
<td valign="top">500</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Aperture</td>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top">5.6</td>
<td valign="top"><strong>8 </strong></td>
<td valign="top">11</td>
<td valign="top">11</td>
<td valign="top">11</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pada kamera digital poket (non DSLR) yang memiliki sensor kecil, perlu  ada tindakan untuk menghindari noise yang berlebihan, oleh karena itu pemakaian ISO terbatas pada setting 50, 100, 200 dan 400. Efek paling jelas dari perubahan ISO adalah besarnya grain dan timbulnya <em>noise</em>.</p>
<p>Panduan singkat ini hanya akan membahas pengaturan setting kecepatan &amp; bukaan lensa.  Walau demikian, Anda dapat juga memanfaatkan buku ini untuk memahami pengaruh ISO dengan melakukan latihan-latihan yang tersedia pada setting ISO yang berbeda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>*) ISO adalah singkatan dari International Standards Organization, organisasi dunia yang menetapkan angka-angka pada film berdasarkan kepekaannya terhadap cahaya. ASA adalah singkatan dari American Standards Association, organisasi yang menetapkan standar di Amerika Serikat. Walaupun organisasi ini sudah berubah nama, namun singkatan ASA masih sering dipakai untuk menyatakan kepekaan film. ISO dan ASA mengacu pada besaran yang sama.</p>
<p>bersambung &#8230;</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

