<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Foto Fotografi Tips Foto Kursus Foto Jakarta Indonesia Sahabat Pemula Model &#187; cahaya</title>
	<atom:link href="http://studiofotografi.com/tag/cahaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiofotografi.com</link>
	<description>Studio, foto,web,kursus Foto,tips fotografi, Jakarta, Indoesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Jul 2010 02:01:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tips dan Ragam Pencahayaan dalam Fotografi</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/02/tips-dan-ragam-pencahayaan-dalam-fotografi-4/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/02/tips-dan-ragam-pencahayaan-dalam-fotografi-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 14:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya pagi hari]]></category>
		<category><![CDATA[diagfragma]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku digital]]></category>
		<category><![CDATA[memotret]]></category>
		<category><![CDATA[pencahayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam fotografi, pengaturan pencahayaan merupakan kunci keberhasilan untuk mendapatkan hasil gambar yang diinginkan. Pengaturan pencahayaan ini sangat berkaitan dengan pengaturan diafragma (aperture) dan kecepatan (shutter speed). Jika pada kamera saku digital terdapat fasilitas shooting mode manual, maka pengaturan diafragma dan kecepatan diatur oleh si pemotret. Dengan pengaturan pencahayaan dengan shooting mode manual ini kebutuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam fotografi, pengaturan pencahayaan merupakan kunci keberhasilan untuk mendapatkan hasil gambar yang diinginkan. Pengaturan pencahayaan ini sangat berkaitan dengan pengaturan diafragma (aperture) dan kecepatan (shutter speed).</p>
<p>Jika pada kamera saku digital terdapat fasilitas shooting mode manual, maka pengaturan diafragma dan kecepatan diatur oleh si pemotret. Dengan pengaturan pencahayaan dengan shooting mode manual ini kebutuhan pencahaaan yang didapat biasanya lebih tepat dibandingkan dengan pengaturan shooting mode secara otomatis.</p>
<p><strong>1. Over Exposure</strong><br />
Yang dimaksud over exposure adalah pencahayaan yang berlebih. Penyebar kelebihan pencahayaan ini adalah pengaturan aperture dengan shutter speed yang tidak sesuai. Jika dilihat di garis matering, posisi jarum matering berada di areal plus (+). Akibat dari kelebihan pencahayaan, foto yang dihasilkan tampak didominasi warna putih/terang.</p>
<p>Ada yang menyebut kelebihan pencahayaan ini dengan istilah harz. Over exposure juga bisa disebabkan oleh sambaran lampu kilat yang terlalu kuat/ Hal ini bisa terjadi jika jarak antara obyek dengan lampu kilat (flash) terlalu dekat atau si pemotret terlalu penuh mengatur output flash.</p>
<p><strong>2. Under Exposure</strong><br />
Kebalikan dari over exposure, adalah kekurangan pencahayaan. Penyebabnya pun sama, tidak sesuainya pengaturan shutter speed dan aperture (-). Under exposure biasanya juga disebabkan oleh sambaran flash yang terlalu lemah. Hal ini bisa terjadi jika jarak antara objek dengan flash terlalu jauh atau si pemotret terlalu minim mengatur output flash.<span id="more-204"></span></p>
<p><strong>3. Cahaya dari Depan Objek</strong><br />
Memotretlah dengan keadaan objek menghadap sinar, bukan pemotret yang menghadap sinar. Cahaya yang datang dari depan objek akan menyinari tubuh secara merata. Wajah objek tampak jelas. Jika pada sebagian wajah objek ada sedikit bayangan (shadow), hal ini tidak mengurangi hasil foto, justru menambah nuansa foto.</p>
<p><strong>4. Cahaya dari Belakang Objek</strong><br />
Saat memotret objek di luar ruangan (outdoor) sebaiknya menghindari pengambilan gambar yang menantang matahari. Pemotretan dengan menantang matahari, tubuh objek akan tampak gelap. Apalagi jika kondisi matahari terlalu kuat maka seluruh objek akan tampak hitam. Hasil foto seperti ini bisa menghasilkan foto siluet.</p>
<p><strong>5. Cahaya Pagi Hari</strong><br />
Memotret objek dengan memanfaatkan pencahayaan di pagi hari sangat disarankan. Pasalnya, cahaya pagi hari akan menghasilkan tonal warna yang lembut. Hasil foto yang didapatkan relatif bagus, baik objek landscape (pemandangan) maupun objek manusia.</p>
<p><strong>6.Cahaya Siang Hari</strong><br />
Memotret objek pada siang hari sangat tidak disarankan karena sifat pencahayaan yang terlalu kuat sehingga foto yang dihasilkan cenderung over exposure, meskipun pengaturan aperture dan shutter speed sudah sesuai.</p>
<p><strong>7. Cahaya Sore Hari</strong><br />
Pemanfaatan cahaya sore hari sangat dianjurkan dalam pemotretan. Sifat pencahayaan pada sore hari sama dengan pagi hari. Apalagi saat intensitas cahaya matahari sedikit berkurang, pada pukul 16.00 ke bawah.</p>
<p><strong>8. Cahaya Malam Hari</strong><br />
Pemanfaatan cahaya pada malam hari sebenarnya memanfaatkan cahaya yang dihasilkan oleh lampu sebagai cahaya luar. Jangan terlalu mengandalkan flash karena hasilnya nanti akan tidak alami. Untuk menyiasatinya, pemotret bisa menggunakan shutter speed rendah tanpa tambahan lampu flash. Sayangnya, shutter speed yang rendah akan membuat foto menjadi tidak maksimal, maka dari itu, untuk mengatasinya pemotret bisa dibantu dengan penggunaan tripod.</p>
<p>Disarankan untuk memotret pagi hari pada jam 06.00 &#8211; 09.00 dan sore hari pada pukul 16.00 &#8211; 18.00. Pasalnya, dalam waktu-waktu tersebut terdapat pencahayaan yang paling baik.</p>
<p>sumber Okezone</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiofotografi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/02/tips-dan-ragam-pencahayaan-dalam-fotografi-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Fotografi</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/01/seni-fotografi/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/01/seni-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 06:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera]]></category>
		<category><![CDATA[kamus bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[seni lukis]]></category>
		<category><![CDATA[Teknis Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kamus bahasa Indonesia pengertian fotografi adalah seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film. Pendek kata, penjabaran dari fotografi  itu tak lain berarti “menulis atau melukis dengan cahaya”. Tentunya hal tersebut berasal dari arti kata fotografi itu sendiri yaitu berasal dari bahasa Yunani, photos (cahaya) dan graphos yang berarti tulisan. Nah, melihat pengertian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kamus bahasa Indonesia pengertian <a href="http://studiofotografi.com"><strong>fotografi </strong></a>adalah seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film. Pendek kata, penjabaran dari fotografi  itu tak lain berarti “menulis atau melukis dengan cahaya”. Tentunya hal tersebut berasal dari arti kata fotografi itu sendiri yaitu berasal dari bahasa Yunani, photos (cahaya) dan graphos yang berarti tulisan.</p>
<p>Nah, melihat pengertian tersebut terlihat ada persamaan antara fotografi dan karya seni lukis atau menggambar. Yang jelas perbedaannya terletak pada media yang digunakannya.</p>
<p>Bila dalam seni lukis yang dipakai gambar dengan menggunakan media warna (cat), kuas dan kanvas. Sedangkan dalam fotografi  menggunakan cahaya yang dihasilkan lewat kamera. Tanpa adanya cahaya yang masuk dan terekam di dalam kamera, sebuah karya seni fotografi tidak akan tercipta.<span id="more-46"></span></p>
<p>Selain itu, adanya film yang terletak di dalam kamera menjadi media penyimpan cahaya tersebut. Film yang berfungsi untuk merekam gambar tersebut terdiri dari sebuah lapisan tipis. Lapisan itu mengandung emulsi peka di atas dasar yang fleksibel dan transparan. Emulsi mengandung zat perak halida, yaitu suatu senyawa kimia yang peka cahaya yang menjadi gelap jika terekspos oleh cahaya. Ketika film secara selektif terkena cahaya yang cukup maka sebuah gambar tersembunyi akan terbentuk. Tentunya gambar tersebut akan terlihat jika film yang telah digulung ke dalam selongsongnya kemudian dicuci dengan proses khusus.</p>
<p>Aktivitas berkreasi dengan cahaya tersebut tentunya sangat berhubungan dengan pelakunya (subjek) dan objek yang akan direkam. Setiap pemotret  mempunyai cara pandang yang berbeda tentang kondisi cuaca, pemandangan alam, tumbuhan, kehidupan hewan serta aktivitas manusia ketika melihatnya di balik lensa kamera. Cara memandang atau persepsi inilah yang kemudian direfleksikan lewat bidikan kamera. Hasilnya sebuah karya <a href="http://studiofotografi.com"><strong>foto </strong></a>yang merupakan hasil ide atau konsep dari si pembuat foto.</p>
<p>Andreas Feininger (1955) pernah menyatakan bahwa “kamera hanyalah sebuah alat untuk menghasilkan “karya seni”. Nilai lebih dari karya seni  itu dapat tergantung dari orang yang mengoperasikan kamera tersebut.</p>
<p>Tampaknya ungkapan Feininger ada benarnya. Bila kamera diumpamakan sebagai gitar, tentunya setiap orang bisa memetik dawai gitar tersebut. Tapi belum tentu mampu memainkan lagu yang indah dan enak didengar. Begitu halnya dengan kamera, setiap orang dapat saja menjeprat-jepret dengan kamera untuk menghasilkan sebuah objek foto . Tapi tidak semua orang yang mampu memotret itu menghasilkan karya imaji yang mengesankan. Sebuah foto  yang sarat akan nilai di balik guratan warna dan komposisi gambarnya.</p>
<p>Bila sebuah karya foto adalah hasil kreativitas dari si pemotret, tentu saja ada respon dari orang yang memandangnya. Almarhum Kartono Ryadi, fotografer kawakan di negeri ini pernah berkomentar, bahwa <a href="http://studiofotografi.com"><strong>foto </strong></a>yang bagus adalah foto  yang mempunyai daya kejut dari yang lain. Pandangan tentang bagaimana nilai foto yang bagus itu juga dikemukakan oleh seorang fotografer professional, Ferry Ardianto.</p>
<p>Menurut dia foto yang bagus adalah foto yang informatif yang mencakup konteks, content , dan komposisi (tata letak dan pencahayaan). Maksud dia, konteks berarti ada hal yang ingin divisualkan dengan jelas, misalnya tentang pemandangan. Di sisi lain, istilah content maksudnya apa yang ingin ditampilkan untuk memenuhi konteks gambar tersebut.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiofotografi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/01/seni-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fotografi Dasar 2</title>
		<link>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/</link>
		<comments>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:55:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknis Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[aperture]]></category>
		<category><![CDATA[bukaan rana]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[jendela cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan rana]]></category>
		<category><![CDATA[lensa]]></category>
		<category><![CDATA[Rana]]></category>
		<category><![CDATA[shutter speed]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiofotografi.com/isi/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[KECEPATAN RANA (SHUTTER-SPEED) Shutter adalah alat yang membatasi antara lensa dengan media film atau sensor. Alat ini akan membuka ketika tombol shutter ditekan dan menyebabkan media terekspos oleh cahaya. Posisinya digambarkan pada diagram berikut: Speed setting akan mengatur lamanya waktu terbukanya shutter. Shutter speed dinyatakan dengan angka 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KECEPATAN RANA (SHUTTER-SPEED) </strong></p>
<p>Shutter adalah alat yang membatasi antara lensa dengan media film atau sensor. Alat ini akan membuka ketika tombol shutter ditekan dan menyebabkan media terekspos oleh cahaya. Posisinya digambarkan pada diagram berikut:</p>
<p><a href="http://studiofotografi.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/dasar-foto-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-28" title="dasar foto 1" src="http://studiofotografi.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/dasar-foto-1-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a></p>
<p><em>Speed setting</em> akan mengatur <em>lamanya waktu </em>terbukanya shutter. Shutter speed dinyatakan dengan angka 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 3, 2, 1”, 2”, 4”. Angka-angka pada shutter speed setting merupakan penyebut dari waktu sensor terbuka. Misalnya, speed 250 berarti sensor terbuka 1/250 detik.<span id="more-23"></span></p>
<p>Waktu terbuka di atas 1 detik ditandai dengan tanda kutip ( “ ), misalnya 2” berarti sensor terbuka selama 2 detik. Waktu terbuka yang lebih panjang berarti bahwa sensor menerima cahaya yang lebih banyak. Beberapa kamera memiliki shutter speed tercepat hingga 1/8000 s dan speed lambat hingga 30 s. Kamera-kamera profesional mungkin memiliki kecepatan yang ditandai dengan huruf <strong>B</strong> (Bulb), yaitu setting yang akan terus membuka shutter selama tombol ditekan.</p>
<p>Setiap perubahan pada kecepatan maupun bukaan dikenal dengan istilah <strong><em>f-stop</em></strong><em>. </em>Perubahan dari 2000 ke 1000 atau dari 500 ke 250 disebut dengan <em>1 langkah f-stop</em>. Perhatikan bahwa pada setiap langkah, angkanya berubah menjadi ½ dari sebelumnya. Artinya, untuk setiap langkah perubahan, banyaknya cahaya yang sampai pada sensor akan berlipat 2.</p>
<p>Pada ilustrasi berikut, banyaknya cahaya yang sampai pada sensor adalah volume dari tabung cahaya. Panjang tabung menunjukkan lamanya pencahayaan, sedangkan diameter tabung menunjukkan lebar bukaan (aperture).</p>
<p>di pagi hari yang cerah, Anda dapat menggunakan shutter speed yang cepat, misalnya 1/250 s</p>
<p>Namun pada kondisi mendung dan intensitas cahaya berkurang, Anda harus memperlambat shutter speed agar waktu pencahayaan menjadi lebih panjang, misalnya menjadi 1/30 s</p>
<p>Pada kondisi tertentu, mungkin perlu digunakan shutter speed lebih cepat dikombinasikan dengan bukaan lebar</p>
<p>Atau justru sebaliknya, shutter speed lebih lambat dengan bukaan sempit</p>
<p>Intinya, perbedaan setting shutter speed akan menyebabkan perbedaan lamanya waktu pencahayaan. Pada bukaan aperture yang sama, banyaknya cahaya yang diterima sensor adalah sebanding dengan lama waktu pencahayaan.</p>
<p>Untuk lebih memahami tentang kecepatan, Anda dapat mencoba beberapa setting. Jika kamera Anda memiliki mode M, gunakan mode tersebut dengan nilai aperture tetap, misalnya f/5.6. Lalu lakukan pemotretan dengan beberapa shutter speed, misalnya 250, 125, 60. Amati perbedaan yang dihasilkan dari setiap setting.</p>
<p>Setelah itu, cobalah menggunakan speed lambat, misalnya 1”, 2” atau 4”, perhatikan perbedaan waktu antara saat Anda menekan tombol shutter dengan saat terdengarnya suara shutter tertutup.</p>
<p>Foto berikut dibuat dengan speed lambat:</p>
<p><strong>BUKAAN RANA (APERTURE WIDTH) </strong></p>
<p>Aperture akan mengatur <em>luas bukaan jendela</em> melalui lensa menuju sensor.  Aperture terdiri dari beberapa bilah penutup (<em>blade</em>) yang dapat bergerak sedemikian hingga membentuk lubang kecil di tengahnya. Pada era kamera analog, pengaturan aperture dilakukan melalui aperture ring pada lensa. Saat ini, baik speed maupun aperture dilakukan lewat kamera. Contoh bentuk aperture:</p>
<p>Aperture dinyatakan dengan angka-angka 22. 16, 11, 8, 5.6, 4, 2.8. Angka-angka pada aperrture setting merupakan penyebut dari diameter bukaan lensa. Misalnya f/4 berarti diameter bukaan 1/4 inch. Artinya, semakin kecil angka aperture, berarti diameter bukaan lensa menjadi lebih besar.</p>
<p>Lebar bukaan rana dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p>Atau dapat juga digambarkan seperti ini:</p>
<p>Perhatikan bahwa jendela cahaya pada lensa berbentuk seperti lingkaran. Cahaya yang masuk akan sebanding dengan luas bukaan aperture, atau kuadrat dari jari-jarinya (atau ¼ dari kuadrat diameternya). Oleh karena itu, untuk memperoleh cahaya 2 kali lebih banyak, diperlukan pertambahan diameter sebesar 1.4 (= akar 2) kali diameter sebelumnya. Jadi, sebagaimana pada shutter speed, setiap perubahan f-stop pada aperture berarti pertambahan cahaya 2 kali lipat.</p>
<p>bersambung &#8230;</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiofotografi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiofotografi.com/2010/01/fotografi-dasar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
